Kamis, Juni 19, 2008

Hidup Mengalir Seperti Air

Banyak sekali artis terkenal atau public figure yang sering diwawancara I wartawan mengenai falsafah hidupnya. Secara klise mayoritas menjawab "Saya akan menjalani hidup seperti air mengalir". Kedengarannya enak, penuh filosofi dan sedikit puitis. Apakah anda setuju dengan ungkapan tersebut. Mengapa? Apa benar mengikuti aliran air akan membawa kita hidup layak? Mari kita kupas bersama.

Misal anda pengin punya target A. Kita jalani aja hidup apa adanya seperti aliran air. Seandainya aliran air bisa membawa kita sampai ke tempat tujuan yang kita inginkan wah enak sekali. Seandainya pada saat air mengalir kita tersangkut di ranting pepohonan di sungai bagaimana? Atau menuju ke tempat yang tidak kita kehendaki? Beberapa cerita di bawah ini semoga bisa memberikan inspirasi buat anda.

Sebut saja Vita, seorang gadis desa sekitar 300 km dari Jakarta. Vita memimpikan gemerlapnya kehidupan kota. Dengan bekal pendidikan SMA, Vita bermimpi bekerja ringan dengan bergelimang uang. Ketika ada tawaran bekerja dari rekannya yang sudah ”sukses” di Jakarta, Vita segera menyambar peluang tersebut. Tawaran pekerjaannya sebagai pramuniaga rokok ternyata hanya sekedar kedok belaka. Temannya ”sukses” bergelimang uang dengan kerja ringan karena melakukan pekerjaan sampingan sebagai penghibur hidung belang. Namanya toh hidup laksana air mengalir, Vita pun tidak keberatan melakukannya. Impiannya untuk hidup bergelimang uang yang penting tercapai walau jalan airnya tersangkut di lembah kemaksiatan. Vita tidak punya komitmen untuk mencapai goalnya dengan cara-cara yang terpuji!

Contoh lain kita ambilkan dari dunia pertanian. Kita amati petani-petani kita sering latah atau ikut-ikutan. Si Ahmad sukses menanam cabai di musim hujan. Perlu diketahui bahwa sangat sulit untuk sukses menanam cabai di musim hujan. Menanam cabai di musim hujan ibarat melawan arus. Hujan menyebabkan banyak buah yang rontok karena serangan lalat buah dan penyakit patek (Antrachnosa). Pedagang rame-rame mendatangi kebunnya saat itu. Cabainya dihargai Rp. 10.000/kg, sementara biaya produksinya Rp. 3.000/kg. Jadi ada selisih Rp. 7.000/kg. Bayangkan jika dia menanam 1 hektar yang kira-kira menghasilkan 10 ton cabai? Dalam waktu 3 bulan Ahmad meraup untung Rp. 70.000.000 bukan? Musim berikutnya adalah akhir musim hujan, pengelolaan tanaman akan mudah karena musim hujan segera berakhir dan panenan terjadi di musim kemarau.

Ternyata tidak hanya Ahmad yang menanam cabai, semua petani di sekitarnya beralih dari padi ke cabai. Mengapa? Mereka hanyut dalam arus dan mimpi yang indah oleh keuntungan yang diperoleh Ahmad musim lalu. Lagian menanam cabainya lebih gampang karena masuk di musim kemarau. Karena gampang maka semua petani juga menanam. Akibatnya apa? Harga cabai di musim tersebut menjadi hancur, hanya Rp. 3.500/kg. Jika saya sebagai petani, mengetahui semua petani menanam cabai maka saya harus berbeda dengan yang lain. Saya akan menanam semangka, kol bunga, melon, tomat atau tanaman lainnya. Jika semua menanam hal yang sama maka harga akan jatuh, hukum ekonomi mengatakan bahwa suplai melebihi dari permintaan.

Jika kita memiliki goal yang SMART, maka kita akan tahu ke mana arah yang kita tuju. Memerlukan komitmen dan perjuangan yang keras untuk mencapai goal kita. Di dunia ini tidak ada hasil optimal dengan perjuangan minimal. David. J. Schwartz pernah mengatakan bahwa ”Think little goals and expect little achievements. Think big goals and win big success.” (Pikirkan goal-goal yang kecil dan harapkan hasil yang kecil juga. Pikirkan goal-goal yang besar dan menangkan sukses yang besar pula!). Kesimpulannya jangan mengikuti aliran air, karena aliran air belum tentu membawa keberuntungan. Aliran air belum tentu membawa anda ke tujuan yang ingin anda capai!

Salam maha dahsyat,


Comments :

0 komentar to “Hidup Mengalir Seperti Air”

WAKTU SHALAT

Prayer Times For 6 Million Cities Worldwide
Country:
 
Memuat...

Followers

Copyright © 2009 by Sultan's Weblog
Themes : Magazine Style by Blogger Magazine